Latar Belakang
Jika anda terlahir sebagai seorang wanita, bersyukurlah.
Sesungguhnya Rasulullah telah mengajarkan umatnya untuk menghormati wanita,
bahkan berwasiat secara khusus mengenai mereka di padang Arafah saat haji Wada’. Dan Sesungguhnya Allah juga telah memberikan
kemuliaan dan posisi yang tinggi kepada wanita. Ia telah menganugerahinya
selaksa kelebihan atas lelaki, baik dari segi fisik maupun rohani. Secara
fisik, wanita identik dengan kelembutan dan kehalusan. Dua kata tersebut seolah
sangat lekat dan secara otomatis menjadi citra yang melekat pada dirinya,
meskipun hal ini masih berlaku secara umum. Karena faktanya, ada juga wanita
yang kelaki-lakian atau biasa disebut ‘gadis tomboy’.
Secara umum,
wanita memang selalu lembut dan halus. Suara lembut, tutur kata halus, dan
tingkah lakunya sopan. Sungguh sangat berbeda dengan laki-laki yang biasanya
kasar. Dari etika kesopanan hingga tutur kata, wanita pun lebih lihai dalam
memikat perhatian lawan bicaranya. Inilah yang seringkali menjadikan sebuah
perusahaan lebih memilih tenaga pemasar atau bahkan bidang kehumasan dari kaum
hawa. Hati wanita juga sangat mudah tersentuh. Sebuah penelitian menyebutkan
bahwa pria lebih sering menggunakan otak kiri. Sementara wanita, mereka menggunakan
otak kanan kedua bagian otaknya-kiri dan kanan secara bersamaan dan
proporsional. Penting diketahui bahwa otak kiri lebih peka terhadap aspek
intelektual. Cara kerjanya bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional.
Sedangkan otak kanan lebih peka terhadap perasaan (emotional thinking). Cara
kerjanya bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Inilah yang
menyebabkan wanita disebut sensitif dan terkenal sangat mudah menangis.
Hal tersebut
menjadi alasan bagi kaum-kaum sebelum
Islam memandang wanita rendah sehingga mereka disingkirkan dari
kehidupan kemasyarakatan. Hal ini bias kita lihat dari kebiasaan bangsa Romawi,
Yunani, Yahudi, Nasrani, dan Arab Jahiliyah dalam memperlakukan wanita. Mereka
cenderung memposisikan wanita sebagai barang yang bisa dinikmati siapa pun dan
kapan pun.
Kemudian
datanglah Islam. Ia mulai mengangkat derajat kaum wanita, berbuat adil kepada
mereka, memuliakan mereka, dan menghormati mereka selayaknya makhluk Allah.
Maka di sinilah Islam mengatur setiap langkah umatnya, menetapkan batasan-batasan
untuk melindungi, menghormati, dan memelihara harga diri mereka.
Kini, dalam
dunia modern yang telah begitu banyak mengalami dekadensi dalam berbagai aspek
terutama moralitas, kita umat Islam kembali bertanya, di manakah sesungguhnya
peran wanita (muslimah, red) dalam
perubahan moral yang terjadi kini? Seperti apakah seharusnya seorang wanita
berbuat dan bertingkah laku? Hal inilah yang menarik perhatian penulis untuk
mengangkat tema “Peran Wanita dalam Perubahan Moral” dalam karya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar