Minggu, 01 April 2012

Peran Wanita Dalam Perubahan Moral part I

Latar Belakang
        Jika anda terlahir sebagai seorang wanita, bersyukurlah. Sesungguhnya Rasulullah telah mengajarkan umatnya untuk menghormati wanita, bahkan berwasiat secara khusus mengenai mereka di padang Arafah saat haji Wada’. Dan  Sesungguhnya Allah juga telah memberikan kemuliaan dan posisi yang tinggi kepada wanita. Ia telah menganugerahinya selaksa kelebihan atas lelaki, baik dari segi fisik maupun rohani. Secara fisik, wanita identik dengan kelembutan dan kehalusan. Dua kata tersebut seolah sangat lekat dan secara otomatis menjadi citra yang melekat pada dirinya, meskipun hal ini masih berlaku secara umum. Karena faktanya, ada juga wanita yang kelaki-lakian atau biasa disebut ‘gadis tomboy’.

            Secara umum, wanita memang selalu lembut dan halus. Suara lembut, tutur kata halus, dan tingkah lakunya sopan. Sungguh sangat berbeda dengan laki-laki yang biasanya kasar. Dari etika kesopanan hingga tutur kata, wanita pun lebih lihai dalam memikat perhatian lawan bicaranya. Inilah yang seringkali menjadikan sebuah perusahaan lebih memilih tenaga pemasar atau bahkan bidang kehumasan dari kaum hawa. Hati wanita juga sangat mudah tersentuh. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa pria lebih sering menggunakan otak kiri. Sementara wanita, mereka menggunakan otak kanan kedua bagian otaknya-kiri dan kanan secara bersamaan dan proporsional. Penting diketahui bahwa otak kiri lebih peka terhadap aspek intelektual. Cara kerjanya bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Sedangkan otak kanan lebih peka terhadap perasaan (emotional thinking). Cara kerjanya bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Inilah yang menyebabkan wanita disebut sensitif dan terkenal sangat mudah menangis.
Hal tersebut menjadi alasan bagi kaum-kaum sebelum  Islam memandang wanita rendah sehingga mereka disingkirkan dari kehidupan kemasyarakatan. Hal ini bias kita lihat dari kebiasaan bangsa Romawi, Yunani, Yahudi, Nasrani, dan Arab Jahiliyah dalam memperlakukan wanita. Mereka cenderung memposisikan wanita sebagai barang yang bisa dinikmati siapa pun dan kapan pun.
Kemudian datanglah Islam. Ia mulai mengangkat derajat kaum wanita, berbuat adil kepada mereka, memuliakan mereka, dan menghormati mereka selayaknya makhluk Allah. Maka di sinilah Islam mengatur setiap langkah umatnya, menetapkan batasan-batasan untuk melindungi, menghormati, dan memelihara harga diri mereka.
Kini, dalam dunia modern yang telah begitu banyak mengalami dekadensi dalam berbagai aspek terutama moralitas, kita umat Islam kembali bertanya, di manakah sesungguhnya peran wanita (muslimah, red) dalam perubahan moral yang terjadi kini? Seperti apakah seharusnya seorang wanita berbuat dan bertingkah laku? Hal inilah yang menarik perhatian penulis untuk mengangkat tema “Peran Wanita dalam Perubahan Moral” dalam karya ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar