Minggu, 01 April 2012

Wanita Dalam Perubahan Moral part II

 <--kembali ke part I
A. Wanita dalam Sorotan Islam
            Wanita dalam bahasa Inggris menjadi “want” atau “wanted”, sehingga berarti bahwa “who is being wanted” atau seseorang yang dibutuhkan. Dalam bahasa Jawa kata wanita berarti “Wani ditata” (berani ditata) yang dapat ditafsirkan :
  1. Berani bila diatur; membantah atau tidak mau diatur
  2. Berani (tak ragu) bila diatur; menurut jika diatur.
Perbincangan mengenai wanita telah terjadi pada tahun 581 M dalam Kongres Besar Bangsa Eropa yang dihadiri oleh para cendekiawan, pemuka agama, dan pejabat kekaisaran. Mereka berusaha menemukan jawaban tentang siapa sebenarnya wanita itu?. Dan pada saat itu juga sempat dipertanyakan apakah wanita termasuk golongan manusia atau hewan. Pada kesimpulan akhir mereka menyepakati bahwa wanita adalah manusia yang diciptakan untuk menghamba kepada kaum pria. Namun, Islam menjawab hal ini dengan memberikan defenisi yang jelas. Allah berfirman:
“Dan bahwasannya Dia-lah yang mencipatakan laki-laki dan perempuan dengan berpasangan.” (QS. An-Najm: 45)

.
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 1)

“Dan tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (Qs. Adz-Dzariyat: 56)

Demikianlah Islam memberikan pengertian yang jelas mengenai wanita. Ia merupakan bagian dari makhluk Allah yang setara dengan laki-laki dan memiliki hak dan kewajiban yang sama. Perbedaan mereka hanyalah dari sisi fungsi dalam taraf pelaksanaan kekhalifahan di muka bumi sebagai amanat Allah.
Allah menciptakan manusia tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Tidak ada pebedaan dalam hal ini, baik laki-laki atau wanita. Keduanya sama-sama hamba Allah, tidak ada yang membedakan kecuali ketakwaannya kepada Allah.
Muslimah adalah wanita yang memeluk Islam sebagai agamanya. Ketika seseorang telah memilih Islam, ia harus menerima berbagai konsekuensi yang ada padanya. Allah berfirman:
 
“Dan tidak patut bagi laki-laki dan perempuan yang muslim dan tidak pula bagi laki-laki dan perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Allah memberikan akal pada wanita sebagaimana halnya laki-laki agar mampu memahami petunjuk-petunjuk-Nya, sehingga mampu membedakan yang benar dan yang salah. Hal ini tentu saja setalah melalui proses berpikir yang benar, yaitu proses berpikir yang berlandaskan wahyu.
“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah. Dan Allah akan menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus: 100)

1. Tafsiran Salah Tentang Wanita Modern
            Para penganut Kapitalis Barat menyebarkan idenya dengan berbagai cara ke tangah-tengah kaum muslim, diantaranya melalui modernisasi. Barat menilai modernisasi menurut ideologinya. Dalam kapitalisme, sekulerisme (pemisahan aturan agama dari kehidupan) dijadikan landasan. Agama dinilai tidak ada kaitannya dengan urusan kehidupan. Ide-ide inilah yang dihembuskan ke dalam  benak kaum muslimin. Akibatnya, pola kehidupan baik dalam konteks kehidupan pribadi,  keluarga, maupun masyarakat tidak bertolok ukur pada hukum Islam.
Modernisasi yang ditawarkan Barat justru membuat derajat manusia mengalami keterpurukan. Bagaimana tidak, mereka telah mengusung apa yang telah menjadi larangan Allah menjadi aktivitas sehari-hari. Hal ini dapat kita lihat di lingkungan sekitar kita. Ide-ide yang mereka usung untuk menyesatkan kaum muslimin dari agamanya antara lain melalui 7 F, yaitu:
  1. Food (makanan)
  2. Fashion (gaya berpakaian)
  3. Fun (hiburan)
  4. Film
  5. Free thinking (pola berpikir bebas tanpa aturan)
  6. Financial (keuangan, model berpikir materialistik)
  7. Free sex (sex bebas)
Demikianlah gaung kebebasan ala Barat menghalalkan wanita memilih jalan hidup sesuai keinginan nafsunya. Dikatakan modern ketika wanita bekerja dan berkarir hingga melupakan tugas utamanya sebagai seorang ibu yang harus mendidik putra-putrinya sesuai petunjuk Allah. Juga dikatakan modern ketika muslimah menanggalkan jilbab. Bahkan kini ada jilbab modern yang jika dipakai muslimah pun tidak layak lagi disebut sebagai jilbab. Padahal Allah berfirman:
 
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu’min, hendaklahlah mereka itu mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59)

2. Islam Memelihara Kehidupan Wanita
            Sebelum Islam datang, wanita diperlakukan semena-mena tak ubahnya seperti binatang. Kaum laki-laki di masyarakat meletakkan derajat wanita pada tingkat terendah. Mereka harus hidup di bawah tekanan dan keganasan laki-laki. Bahkan di Jazirah Arab, bayi yang terlahir perempuan akan segera dikubur hidup-hidup. Kisah ini tercantum dalam Al-Quran Surat An-Nahl ayat 58-59. Pada bangsa Yahudi tercatat ketika seorang ayah diperbolehkan memjual anak perempuannya dan melarangnya mendapat harta pusaka. Di Eropa, wanita dipaksa melakukan poliandri, dan sebagainya.
            Lalu Islam datang memelihara kehidupan wanita dengan aturan yang jelas dan tegas. Pelopornya adalah seorang bangsawan yang hanif lagi disegani kaumnya, dialah Rasul Muhammad Saw. Dengan petunjuk Allah beliau bersabda tentang posisi seorang ibu sebagai salah satu penentu meraih suga: “Surga itu di bawah telapak kaki ibu.” Dalam hadistnya yang lain, beliau juga bersabda: “Barangsiapa memiliki anak perempauan, kemudian mendidiknya , berbuat baik kepadanya, dan mengawinkannya, makaa baginya surga.” Harta pusaka hak wanita pun diberikan Islam. Islam juga mengajarkan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Firman Allah:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs. Al-Hujurat: 13)
            Demikianlah Islam meninggikan dan mengangkat harkat wanita. Tak ada pilihan lain bagi seorang muslimah kecuali memasuki agamanya secara kaffah (menyeluruh) karena Islam adalah sebuah agama hidup dan kehidupan. Setiap pemeluk Islam harus kembali kepada Islam. Karena pemeluk Islam akan tetap berjaya ketika dia menjalankan ajaran agamanya dengan benar. Dan ajaran Islam telah mengatur setiap aspek kehidupan umatnya dalam suatu konsep yang sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar