Wanita dalam bahasa Inggris menjadi “want” atau
“wanted”, sehingga berarti bahwa “who is being wanted” atau seseorang yang
dibutuhkan. Dalam bahasa Jawa kata wanita berarti “Wani ditata” (berani ditata)
yang dapat ditafsirkan :
- Berani bila diatur; membantah atau tidak mau diatur
- Berani (tak ragu) bila diatur; menurut jika diatur.
Perbincangan
mengenai wanita telah terjadi pada tahun 581 M dalam Kongres Besar Bangsa Eropa
yang dihadiri oleh para cendekiawan, pemuka agama, dan pejabat kekaisaran.
Mereka berusaha menemukan jawaban tentang siapa sebenarnya wanita itu?. Dan
pada saat itu juga sempat dipertanyakan apakah wanita termasuk golongan manusia
atau hewan. Pada kesimpulan akhir mereka menyepakati bahwa wanita adalah
manusia yang diciptakan untuk menghamba kepada kaum pria. Namun, Islam menjawab
hal ini dengan memberikan defenisi yang jelas. Allah berfirman:
“Dan bahwasannya Dia-lah yang mencipatakan laki-laki dan perempuan
dengan berpasangan.” (QS. An-Najm: 45)
.
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan
kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari
keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa:
1)
“Dan tiadalah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk
beribadah kepada-Ku” (Qs. Adz-Dzariyat: 56)
Demikianlah
Islam memberikan pengertian yang jelas mengenai wanita. Ia merupakan bagian
dari makhluk Allah yang setara dengan laki-laki dan memiliki hak dan kewajiban
yang sama. Perbedaan mereka hanyalah dari sisi fungsi dalam taraf pelaksanaan
kekhalifahan di muka bumi sebagai amanat Allah.
Allah
menciptakan manusia tiada lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Tidak ada
pebedaan dalam hal ini, baik laki-laki atau wanita. Keduanya sama-sama hamba
Allah, tidak ada yang membedakan kecuali ketakwaannya kepada Allah.
Muslimah adalah
wanita yang memeluk Islam sebagai agamanya. Ketika seseorang telah memilih
Islam, ia harus menerima berbagai konsekuensi yang ada padanya. Allah
berfirman:
“Dan tidak patut bagi laki-laki dan perempuan yang muslim dan tidak pula
bagi laki-laki dan perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah
menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang
urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka
sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Allah memberikan akal pada wanita sebagaimana halnya laki-laki agar mampu
memahami petunjuk-petunjuk-Nya, sehingga mampu membedakan yang benar dan yang
salah. Hal
ini tentu saja setalah melalui proses berpikir yang benar, yaitu proses
berpikir yang berlandaskan wahyu.
“Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah.
Dan Allah akan menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan
akalnya.” (QS. Yunus: 100)
1.
Tafsiran Salah Tentang Wanita Modern
Para
penganut Kapitalis Barat menyebarkan idenya dengan berbagai cara ke
tangah-tengah kaum muslim, diantaranya melalui modernisasi. Barat menilai
modernisasi menurut ideologinya. Dalam kapitalisme, sekulerisme (pemisahan
aturan agama dari kehidupan) dijadikan landasan. Agama dinilai tidak ada
kaitannya dengan urusan kehidupan. Ide-ide inilah yang dihembuskan ke
dalam benak kaum muslimin. Akibatnya,
pola kehidupan baik dalam konteks kehidupan pribadi, keluarga, maupun masyarakat tidak bertolok
ukur pada hukum Islam.
Modernisasi
yang ditawarkan Barat justru membuat derajat manusia mengalami keterpurukan.
Bagaimana tidak, mereka telah mengusung apa yang telah menjadi larangan Allah
menjadi aktivitas sehari-hari. Hal ini dapat kita lihat di lingkungan sekitar
kita. Ide-ide yang mereka usung untuk menyesatkan kaum muslimin dari agamanya
antara lain melalui 7 F, yaitu:
- Food (makanan)
- Fashion (gaya berpakaian)
- Fun (hiburan)
- Film
- Free thinking (pola berpikir bebas tanpa aturan)
- Financial (keuangan, model berpikir materialistik)
- Free sex (sex bebas)
Demikianlah
gaung kebebasan ala Barat menghalalkan wanita memilih jalan hidup sesuai
keinginan nafsunya. Dikatakan modern ketika wanita bekerja dan berkarir hingga
melupakan tugas utamanya sebagai seorang ibu yang harus mendidik putra-putrinya
sesuai petunjuk Allah. Juga dikatakan modern ketika muslimah menanggalkan
jilbab. Bahkan kini ada jilbab modern yang jika dipakai muslimah pun tidak
layak lagi disebut sebagai jilbab. Padahal Allah berfirman:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istimu, anak-anak perempuanmu, dan
istri-istri orang mu’min, hendaklahlah mereka itu mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena
itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59)
2.
Islam Memelihara Kehidupan Wanita
Sebelum Islam datang,
wanita diperlakukan semena-mena tak ubahnya seperti binatang. Kaum laki-laki di
masyarakat meletakkan derajat wanita pada tingkat terendah. Mereka harus hidup
di bawah tekanan dan keganasan laki-laki. Bahkan di Jazirah Arab, bayi yang
terlahir perempuan akan segera dikubur hidup-hidup. Kisah ini tercantum dalam
Al-Quran Surat An-Nahl ayat 58-59. Pada bangsa Yahudi tercatat ketika seorang
ayah diperbolehkan memjual anak perempuannya dan melarangnya mendapat harta
pusaka. Di Eropa, wanita dipaksa melakukan poliandri, dan sebagainya.
Lalu Islam datang
memelihara kehidupan wanita dengan aturan yang jelas dan tegas. Pelopornya
adalah seorang bangsawan yang hanif lagi disegani kaumnya, dialah Rasul
Muhammad Saw. Dengan petunjuk Allah beliau bersabda tentang posisi seorang ibu
sebagai salah satu penentu meraih suga: “Surga
itu di bawah telapak kaki ibu.” Dalam hadistnya yang lain, beliau juga
bersabda: “Barangsiapa memiliki anak
perempauan, kemudian mendidiknya , berbuat baik kepadanya, dan mengawinkannya,
makaa baginya surga.” Harta pusaka hak wanita pun diberikan Islam. Islam
juga mengajarkan persamaan derajat antara laki-laki dan perempuan. Firman
Allah:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan
perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu
saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu ialah yang
paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Qs.
Al-Hujurat: 13)
Demikianlah Islam
meninggikan dan mengangkat harkat wanita. Tak ada pilihan lain bagi seorang
muslimah kecuali memasuki agamanya secara kaffah (menyeluruh) karena Islam
adalah sebuah agama hidup dan kehidupan. Setiap pemeluk Islam harus kembali
kepada Islam. Karena pemeluk Islam akan tetap berjaya ketika dia menjalankan
ajaran agamanya dengan benar. Dan ajaran Islam telah mengatur setiap aspek
kehidupan umatnya dalam suatu konsep yang sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar