<--kembali ke part II
B.
Peranan Wanita dalam Perubahan Moral
Salah satu hal yang sangat ditekankan di dalam
Islam adalah akhlak atau moral. Akarena dengan moral inilah manusia mampu
membangun sebuah peradaban dan mengukir sejarah. Islam memperhatikan betul
mengenai hal ini hingga Rasul sendiri bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Di zaman yang
semakin berkembang ini, dekadensi moral merebak di mana-mana. Arus ide-ide
asing yang bertentangan dengan ajaran Islam mulai memasuki ranah pemikiran
pemeluk Islam secara besar-besaran. Dan mayoritas korbannya adalah para wanita
di mana merekalah yang dipergunakan sebagai alat untuk mensosialisasikan ide-ide
jahiliah modern ke dalam pemikiran pemeluk Islam. Mereka menjadi korban iklan,
film, dan fashion yang pada hakikatnya memang menjadikan para wanita itu batu
loncatan untuk menghancurkan Islam dan menjadikan Islam semakin terpuruk.
Wanita merupakan alat yang efektif dan efisien utuk menghancurkan generasi
muslim.
Barat menyadari
benar hal tersebut. Karenanya, wanita harus cepat sadar dan berbenah diri.
Wanita harus kembali mendapatkan harga dirinya. Dan hal ini dapat dicapai
dengan perbaikan akhlak.
“Wanita adalah tiang Negara. Jika wanitanya baik maka tegaklah
Negara itu dan jika rusak maka runtuhlah negara itu.” (Al-Hadits)
Hadits tersebut
menerangkan betapa vitalnya peran wanita untuk membangun kemajuan suatu bangsa
dan Negara. Hal ini disebabkan oleh peran utama wanita itu sendiri dalam sebuah
keluarga, yakni sebagai seorang ibu yang bertanggungjawab penuh dalam
pertumbuhan dan perkembangan serta pendidikan putra-putrinya. Maka tidaklah
salah hadits yang mengatakan, “Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.”
Karena hanya seorang ibu yang mengenal benar putra-putrinya. Di sinilah peran
wanita menjadi begitu penting karena di tangannyalah generasi-generasi masa
depan suatu bangsa dipertaruhkan.
Pada masa kini
kita sering mendengar kehebatan seorang pria, namanya mencuat dan terkenal
sebagai seorang pemimpin. Hal ini tidak terlepas dari tangan seorang wanita. Di
balik seorang pemimpin hebat ada wanita yang sangat hebat. Kita mengenal
Mu’awiyah, pendiri pertama daulah Umayyah di mana pada masa ini untuk pertama
kalinya umat Islam memiliki angkatan laut dilengkapi kapal perangnya sendiri.
Siapakah sesungguhnya yang berdiri di belakang Mu’awiyah? Tiada lain dan tiada
bukan adalah ibundanya, Hindun. Abdullah bin Zubair, seorang mujahid Islam
lahir dan tumbuh besar di bawah didikan seorang wanita yang sabar, ulet, taat,
dan bersedia mengorbankan segalanya di jalan Allah, dialah Asma’ binti Abu
Bakar. Dan Rasulullah sendiri, di awal perjuangannya menegakkan Islam, ada
seorang wanita yang begitu tangguh berdiri di belakangnya, beliaulah Khadijah
Al-Kubra, seorang wanita bangsawan kaya raya yang merelakan seluruh hartanya
dipergunakan suminya demi menegakkan Islam.
Demikianlah peran
seorang wanita melahirkan generasi-generasi tangguh, berkualitas, dan diabadikan
oleh sejarah. Para wanita itu mampu berbuat
demikian karena jiwanya dipenuhi dengan keimanan dan ketakwaan sehingga mereka
mampu menerapkan akhlaqul karimah berlandaskan aqidah yang kuat dalam kehidupan
keseharian mereka.
Lalu bagaimana
dengan wanita sekarang ini, pada era globalisasi dan modernisasi yang seolah
tak bisa lepas dari westernisasi? Dekadensi moral terjadi di mana-mana, membuat
wanita semakin kehilangan harga diri dan jati diri. Mereka terlena oleh ide-ide
Barat yang pada hakikatnya ingin menempatkan wanita pada derajatnya yang paling
rendah. Perzinaan merebak di mana-mana sebagai implikasi dari moral yang
semakin tak bisa dipertanggungjawabkan dalam berbagai aspek kehidupan. Cara
berbusana, bertingkahlaku, dan bergaul yang semakin menjauhi tatanan Islam yang
begitu menghormati wanita. Hingga pada akhirnya, wanita semakin kehilangan
identitasnya sendiri sebagai wanita. Lalu hendak dibawa kemanakah gerangan
bangsa ini? Padahal bangsa ini butuh generasi-generasi yang berkualitas baik
intelektual, emosional, maupun spiritual yang hanya dapat dilahirkan dari
tangan-tangan wanita yang berkualitas pula.
1.
Peranan dan Kontribusi Wanita dalam Perubahan Moral
Ajaran Islam
merupakan rangkaian pembentukan karakter akhlak manusia melalui lembaga keluarga.
Di sini diperlukan peran domestik seorang ibu yang notabenenya adalah wanita. Maka
peranan ibu sangat menentukan untuk melahirkan generasi cerdas.
Membangun moral
bangsa pada hakikatnya adalah membangun karakter yang berarti membangun akhlak
dan akidah. Tanpa pembangunan karakter, pembangunan moral hanya akan
menunjukkan kepalsuan. Dan ini dapat dilakukan dengan membangun karakter
terlebih dahulu pada wanita karena di tangannyalah kelah generasi bangsa akan
dibesarkan.
Peran dan
kontribusi seorang ibu atau wanita antara lain sebagai berikut:
1. Peran
dalam membangun keluarga harmonis.
Keluarga
harmonis sangat mendukung lahirnya masyarakat dan bangsa yang harmonis. Peran
ini sangat penting untuk mengokohkan ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga
merupakan keluarga yang harmonis, berdaya, berprestasi, dan menjadi teladan
masyarakat. Maka agenda ketahanan keluarga perlu menjadi agenda pembangunan
nasional.
2. Peran
Kemasyarakatan
Yakni upaya
amar ma’ruf nahi munkar seluas-luasnya. Hal ini dapat dijalankan secara optimal
ketika kemampuan ibu memadai. Pembelajaran menjadi penting untuk memperoleh
pengetahuan dan pemahaman.
3. Peran Kebangsaan
Sejarah menyebutkan adanya seorang wanita
menjadi pahlawan dalam perjuangan. Nama Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Hj. Rasuna Sa’id
terrcatat dalam sejarah sebagai pejuang-pejuang wanita. Karakter ini sebagai pembelajaran bagi generasi kini dan
masa depan. Karena dalam konteks sejarah wanita memiliki kontribusi besar dalam
memperjuangkan bangsa Indonesia.
Pada era modern
kini peran dan kontribusi wanita menjadi sangat vital dalam upaya melahirkan
generasi berkualitas serta memiliki keimanan dan ketakwaan. Generasi seperti
itulah yang mampu mengelola bangsa ini menjadi bangsa yang maju, bermartabat,
dan sejahtera. Hadirnya generasi itu menjadi jawaban atas berbagai poblematika
yang dihadapi bangsa.
Peranan wanita
tersebut dapat dilakukan dengan adanya pengetahuan, akhlak mulia, keikhlasan,
dan pengorbanan. Pengetahuan merupakan dasar agar setiap wanita memiliki dasar
pemahaman terhadap berbagai hal. Karena dengan ilmu seseorang memiliki
keyakinan akan kebenaran yang dipahaminya. Akhlak mulia merupakan etika dan
moral yang harus diterapkan karena dengan itu seseorang akan menjadi teladan
dan motivator yang menginspirasi generasi masa depan. Keikhlasan merupakan
kekuatan untuk pantang menyerah dalam mewujudkan ketahanan keluarga. Dan
pengorbanan membuat kita terus memiliki spirit untuk mencapai yang lebih baik
lagi.
Peran wanita
sebagai ibu tersebut tak bisa tergantikan, yakni sebagai poros perubahan
bangsa. Dengan moralitas yang baik dan karakter yang kuat, peran dan kontribusi
wanita akan melahirkan pemimpin-pemimpin bangsa.
2.
Wanita dan Kiprahnya di Publik
Sejarah telah
mengisahkan bahwa para istri Nabi Saw ikut memikul tanggungjawab untuk mendidik
kaum muslimin, sebagai pengamalan dari perintah Allah SWT.
“Dan ingatlah apa yang dibacakan kepadamu di rumahmu dari ayat-ayat
Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi
Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)
Aisyah ra telah
meriwayatkan hadits dari Rasul berjumlah dua ribu dua ratus dua puluh hadits,
sehingga beliau sangat mempengaruhi kehidupan berpikir, beragama, dan
berpolitik bagi kaum muslimin. Beliau senantiasa dijadikan sumber rujukan para
sahabat atas berbagai pertanyaan. Beliau bersama Ummu Sulaim pernah turut serta
menemani Rasul dalam perang Uhud. Dengan gesit ia bergerak ke sana kemari mengantarkan kendi minuman kepada
para tentara muslim.
Di masa kejayaan
Islam, para muslimah tampil dengan kehebatan di berbagai bidang ilmu
pengetahuan. Dengan ketrampilannya mereka telah turut memajukan Islam.
Labienah, putrid istana Al-Ahkam II, memiliki keahlian dalam bidang ilmu nahwu,
syiar, hisab, dan menggubah tulisan. Qartun Nadaa, seorang pakar undang-undang
dan hukum Islam. Dan Syahdah yang sering memberikan pelajaran di masjid-masjid Baghdad mengenai tarikh
dan adab.
Rasul bersabda: “Barangsiapa bangun di pagi
hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka ia tidak berurusan dengan
Allah. Dan barangsiapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum
muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka (kum muslimin).” (HR. Hakim dan
Al-Khatib dari Huzaifah ra)
Demikianlah
Nabi mewajibkan setiap muslim termasuk wanita untuk peduli terhadap urusan kaum
muslimin. Hal ini penting dilakukan karena perjuangan menegakkan kembali Islam
sebagai sebuah ideologi perlu ditopang oleh berbagai pihak termasuk wanita agar
kehidupan Islam kembali berlangsung.
Namun kiprah
wanita di ranah publik tersebut harus tetap memperhatikan tatanan moral yang
telah ditetapkan Islam dan tidak
melalaikan wanita itu dari fungsi dan peranan utamanya, yakni sebagai ibu dan
pengatur rumah tangga.
Peranan wanita
dalm perubahan moral ke arah yang lebih baik sangatlah vital. Karena melalui
tangan wanitalah generasi-generasi bangsa dilahirkan dan dibesarkan. Wanita
dengan segala pesonanya juga menjadi ikon tersendiri bag setiap perubahan, baik
itu sebuah perbaikan maupun dekadensi. Maka disinilah perlunya wanita menjaga
diri dan melindungi diri untuk tetap mempertahankan derajat, kehormatan, dan
martabatnya.
Untuk itu, setiap wanita membutuhkan
ajaran Islam, karena hanya Islam yang mampu menghormati, meninggikan, dan
melindungi martabat wanita. Hal ii dapt tercapai jika wanita mau kembali kepada
Islam seutuhnya dan menjalankan keislamannya secara kaffah. Demikianlah Islam
memberikan jawaban atas segala fenomena kehidupan termasuk problem peranan
seorang wanita.
Maka Maha Benarlah Allah dengan
firman-Nya:
“Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah
(menyeluruh), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya
syetan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” (Qs. Al-Baqarah: 208)
Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.
BalasHapusSo, qt mesti tegakkan kembali panji-panji ajaran Islam di seluruh dunia, al khassh negri kita tercinta..
BalasHapus